News

Pergerakan Tanah di Desa Bah Aceh Meluas hingga 30 Ribu Meter Persegi

Badan Geologi sudah menyatakan itu bukan sinkhole, melainkan piping erosion atau erosi buluh/erosi bawah permukaan

Banda Aceh (KABARIN) - Fenomena pergerakan tanah di Kampung Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, makin meluas. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh mencatat area longsoran kini sudah melebar hingga lebih dari 30 ribu meter persegi.

“Untuk luasan saat ini kami hitung sudah di atas 30.000 m². Kalau 2021 masih 20.199 m², jadi ada penambahan 10.000 m² lebih,” kata Kabid Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh Ikhlas saat dikonfirmasi di Banda Aceh, Selasa.

Ikhlas menegaskan, fenomena ini bukan sinkhole seperti yang sempat ramai dibicarakan. Menurutnya, pergerakan tanah di Kampung Bah merupakan erosi bawah permukaan atau piping erosion, yang terjadi akibat kikisan air tanah dan air permukaan.

“Badan Geologi sudah menyatakan itu bukan sinkhole, melainkan piping erosion atau erosi buluh/erosi bawah permukaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi tanah di lokasi tersebut memang rentan bergerak. Material tanahnya berada di atas tufa vulkanik dari Formasi Geureudong yang sifatnya lepas dan berpori. Tanah jenis ini mudah menyerap air hingga jenuh, sehingga lebih gampang tererosi dari dalam.

Selain itu, ada rembesan dan aliran air bawah tanah yang menggerus tanah secara menyamping. Saluran drainase di sekitar lokasi juga berpotensi meluap dan menambah beban tanah, terutama saat musim hujan. Kondisi tebing yang curam, bahkan hampir tegak, makin memperparah ketidakstabilan lereng.

“Lalu kondisi tebing yang curam, hampir tegak, menambah ketidakstabilan lereng, serta dapat dipicu oleh hujan dan juga dapat gempa bumi, sehingga lerengnya tidak stabil,” ujar Ikhlas.

Dinas ESDM Aceh baru-baru ini kembali meninjau lokasi dan menemukan sejumlah catatan yang perlu segera ditindaklanjuti. Salah satunya, potensi longsor susulan masih tinggi, terutama saat hujan deras.

Karena itu, Ikhlas mengimbau pemerintah daerah dan pihak terkait untuk aktif menyosialisasikan risiko bencana kepada warga. Masyarakat diminta tidak mendekati area longsoran, apalagi di musim hujan, karena kondisi lereng masih sangat labil.

Ia juga menyarankan Pemkab Aceh Tengah merelokasi jalur jalan yang melintasi area rawan ke lokasi yang lebih aman. Selain itu, drainase di sekitar longsoran sebaiknya dipindahkan atau ditata ulang agar tidak membebani tanah di area tersebut.

Untuk rencana pembangunan di lokasi baru, Ikhlas menekankan pentingnya kajian geologi teknik terlebih dahulu. Mitigasi struktural juga perlu disiapkan, seperti penanaman vegetasi di tebing, penguatan atau penyangga lereng, serta pengaturan drainase yang lebih baik. Di sisi lain, mitigasi non-struktural seperti edukasi dan sosialisasi kebencanaan ke warga juga harus diperkuat.

“Terakhir, harus dilakukan pemantauan perkembangan longsoran secara berkala, terutama apabila ditemukan retakan baru memanjang dan melebar, serta laporkan segera ke instansi berwenang,” kata Ikhlas.

Sebagai catatan, berdasarkan laporan BPBD Aceh Tengah, pergerakan tanah di Kampung Bah sudah berlangsung sejak lama. Awalnya hanya berupa lubang kecil di awal 2000-an, lalu terus bergerak secara bertahap sejak 2004.

Pada 2006, longsoran ini bahkan sempat memutus akses jalan Blang Mancung–Simpang Balik yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Dampaknya cukup besar, hingga warga Kampung Bah Serempah direlokasi ke Kampung Serempah Baru pada 2013–2014. Rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah tersebut pun sudah dilakukan dalam tiga tahap pada periode itu.

Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: